Anomali Institusional dalam Pendidikan Islam: Analisis Fenomenologis atas Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Pondok Pesantren

Authors

  • Ikhwan Sawaty Universitas Muhammadiyah Parepare
  • Elihami Universitas Muhammadiyah Enrekang

DOI:

https://doi.org/10.33487/almirah.v8i2.392

Keywords:

Fenomenologi Husserl, Pendidikan Islam, Pesantren, Kekerasan Seksual, Anomali Institusional, Intersubjektivitas

Abstract

Artikel ini mengkaji fenomena kekerasan dan pelecehan seksual di pondok pesantren menggunakan kerangka fenomenologi Edmund Husserl secara rigor. Meskipun pesantren secara tradisional diidealkan sebagai benteng moral dan spiritual umat, maraknya kasus kekerasan seksual sistematis yang melibatkan figur-figur otoritatif (kiai dan ustadz) dalam dekade terakhir mengindikasikan adanya anomali institusional yang mendalam. Melalui konsep-konsep kunci Husserl—Lebenswelt (dunia kehidupan), intersubjektivitas, intensionalitas, dan reduksi fenomenologis—studi ini mengungkap bagaimana relasi kuasa yang timpang, doktrin kepatuhan mutlak (sami'na wa atho'na), dan budaya diam (culture of silence) membentuk horizon kesadaran kolektif yang memungkinkan terjadinya normalisasi penyimpangan. Reduksi eidetik mengidentifikasi lima struktur esensial: (1) absolutisme kuasa yang disakralkan, (2) kepatuhan sebagai penutupan otonomi, (3) diam sebagai mekanisme reproduksi kekerasan, (4) sedimentasi penyimpangan menjadi tradisi yang dinormalisasi, dan (5) fragmentasi kesadaran kolektif. Temuan menunjukkan bahwa anomali ini bukanlah deviasi individual, melainkan distorsi sistemik dalam struktur intersubjektif Lebenswelt pesantren yang mengakibatkan subordinasi santri, objektifikasi korban, dan kegagalan perlindungan institusional. Artikel ini merekomendasikan reformasi struktural, termasuk dekonstruksi otoritas absolut, pemulihan otonomi santri, dan pembentukan mekanisme akuntabilitas yang berlandaskan nilai-nilai Islam otentik—keadilan ('adl), amanah, dan martabat kemanusiaan (karāmah).

Downloads

Published

2026-08-13